Sunday, February 26, 2012

DEPRESI DUNIA, KEYNESIANISME, DAN FORDISME: KRISIS DAN REGULASI DALAM EPI



Kolaps ekonomi di 1929-1934 tak terelakkan lagi. Sebelumnya pernah terjadi krisis namun tidak pernah sampai sejauh ini. Kurang lebih krisis ini dimulai sejak penurunan gradual dalam pertumbuhan di luar Amerika Utara. Di tahun 1928 kondisi pertanian juga memburuk di sebagian besar produser sementara Eropa dan Asia mulai jatuh dalam sebuah kekolapsan. Amerika Serikat juga mulai meledak. Dengan investasi asing yang kurang atraktif, kaptital AS kembali ke tempat asalnya, dan persedian pasar menumpuk.
Di akhir Oktober 1929 kekacauan sampai pada sebuah akhir. Dalam tiga minggu pasar kehilangan seluruh yang telah diperoleh di satu setengah tahun yang lalu; harga dua kali lipat hingga persediaan uang Amerika yang selama ini menyokong perekonomian bagi dunia mengering. Penaikan suku bunga yang diharapkan akan memicu kapital kembali dalam perekonomian dan keuangan sementara penghematan upah dan profit unt uk membuat barang negara menjadi lebih kompetitif dalam pasar dunia, pada faktanya di akhir musim panas dan awal musim gugur 1929 persediaan pasar mengalami penurunnan. Dalam tiga bulan produksi perindustrian Amerika jatuh 10% dan impor 20%. Sementara perindustrian pemerintah tidak melalukan hal lain perihal penurunan harga kecuali diam. Menerima begitu saja keadaan dengan alasan bahwa resesi akan membenahi dirinya sendiri. Saat upah benar-benar mencapai kerendahan tertentu maka kapitalis akan kembali menyewa pekerja; ketika harga bear-benar rendah maka dengan sendirinya konsumen akan mulai membeli. Ketika harga dan upah rendah maka permintaan akan naik hingga kembali dalam keseimbangan.
Dan tentu saja perekenomian tidak juga membaik bahkan tingkat pengangguran semakin meningkat hingga tahun 1933. Likuidasi deflasi sangat jauh dari perbaikan pertumbuhan perekonomian dengan menurunkan harga dan upah tidak juga memacu adanya investasi baru dan konsumsi dan krisis pun semakin memburuk. Di awal Mei 1931 kepanikan telah menyapu Austria melalui Polandia, Hungaria, Cekoslovakia, dan Romania dan tiba-tiba saja Jerman, lalu Switzerland, Prancis, dan Inggris, Turki, Mesir, Meksiko, dan AS.
Di tahun 1933 ketika perekonomian dunia mati tenggelam, pemerintah mulai menyadari kebijakannya yang gagal. John Maynard Keynes yang seorang penganut neo-Liberalisme menyatakan bahwa bentuk pasar itu mungkin akan selalu mengarah pada keseimbangan penjualan dan pembelian namun tidak menjamin sampai tingkat mana keseimbangan akan tercapai dan kesempatan kondisi full-employment dianggap kurang begitu baik.

Keynes berpendapat bahwa penting sekali bagi pemerintahan untuk meletakkan uang negara dalam suatu bentuk investasi sebagaimana jalanan dan proyek kekuatan, sekolah, sampai rumah sakit. Sebab dengan demikian tidak akan menyaingi barang manufaktur di pasaran. Ia membedakan antara rantai konsumsi dan investasi dalam pasar ekonomi dan membandingkan pembelian kekuatan dengan konsumsi di lain pihak dan penyimpanan di pihak lain. Ketika masa kapital bangkit sementara konsumsi tidak turut naik dengan kapasitas barang produksi, krisis pun terjadi. Investasi kapital akan terhenti seketika sebagaimana stok yang tidak terbeli meningkat.
Berlawanan dengan Keynesianisme, Gramci yang menganut paham neo-Marxis dalam tulisannya Americanism and Fordism. Titik awal darinya adalah efek dari metode Amerika dan produksi Amerika di Eropa setelah Perang DuniaII.dalam bentuk umum dapat dikatakan bahwa Amerikanisme dan Fordisme berasal dari kebutuhan inheren untuk mencapai organisasi dengan perencanaan ekonomi.
Keseluruhan dari ideologi Fordism adalah upah yang tinggi yang mana merupakan kebutuhan yang berasal dari efek industri modern yang mencapai tahapan tertentu. Dengan demikian, pekerja yang memiliki upah tinggi tersebut akan memiliki kapabilitas lebih untuk kembali membeli barang-barang hasil produksi yang dihasilkan industri. Kemudian Amerikanisme percaya bahwa dengan mengutamakan membeli produk dari dalam negeri itu sendiri akan membawa Amerika keluar dari krisis tersebut
Analisis
Apa yang Keynes maksud dalam Keynesisme adalah bahwa pemerintah yang seharusnya mengatur permintaan efektif dalam beberapa cara. Pemerintah seharusnya dapat mempengaruhi suku bunga melalui kebijakan pinjam-meminjam mereka, mereka dapat menjalankan program investasi privat mereka untuk keseimbangan, dan dengan mudah menjalankan pendapatan menjadi surplus dan deficit. Mulanya ini tampak seperti solusi yang sempurna namun sebenarnya cara ini hanya efektif dalam menata krisis dan tidak untuk mengakhirinya. Oleh karenanya ia dikritik karena tidak memberikan jalan keluar yang pasti. Sementara itu tulisan Gramci yang berbau neo Marxis menawarkan sebuah formula bagi negara-negara pada saat itu, dan terbukti sukses di jalankan AS, untuk mengatasi krisis yang terjadi melalui pemerataan upah tinggi bagi pekerja yang memberikan kepabilitas bagi mereka untuk kembali melakukan konsumsi. Sebab meningkatnya produksi industri tidak akan ada artinya jika tidak diikuti oleh peningkatan permintaan akan barang hasil industri.
References
Frieden, Jeffry A & Lake, David A. 2006. “The Establish Order Collapes”dalam Global capitalism: Its fall and Rise in Twentieth Century. New York: W. W. Norton & Co. Inc, pp 173-194
Brown, Michael B. 1995. “The Keynesian Model” dalam Models in political Economy. London: Penguin, pp.55-71
Gramci, Antonio. 1971. “Americanism and Fordism”, dalam Selections from the Prison Notebooks. London: Lawrence and Wishari, pp 227-318

No comments:

Post a Comment